![]() |
Source Image: http://www.aktual.com/kisah-perjalanan-hidup-si-pengetik-naskah-proklamasi-sayuti-melik/
|
Merdeka!
Siapa yang tidak mengenal sosok Sayuti
Melik? Jika dalam buku-buku sejarah sekolah sering disebut sebagai seseorang
yang mengetik naskah teks proklamasi. Apa ada yang lain? Jika tidak ada hal lain
yang dapat kita kenal dari beliau, kini kita akan mengenalnya dari sisi lain
yaitu pemikiran inteleknya mengenai Marhaenisme dan Marxisme, sebuah tulisan
yang dituangkan dalam buku “Antara Marhaenisme dan Marxisme” dan diterbitkan
oleh Penerbit Kendi.
Fakta yang sangat prominen untuk mengenang
Sayuti Melik sebagai pengetik naskah proklamasi adalah ada kebenaran lebih elok yang
jauh sebelum pengetikannya itu dilaksanakan, yaitu beliau sudah menjadi penulis menjengkelkan kaum kolonial.
Karena itulah, Sayuti Melik seorang tokoh pergerakan dekat Marxisme, yaitu
perjuangan kelas yang ia tekuni melawan para kolonial. Ia mempelajari Marxisme
sudah sangat lama baik di luar negeri dari para tokoh Marxis maupun di
Indonesia. Lalu Marhaenisme yang baru ia pelajari bukan berarti ia tidak paham
sepenuhnya. Bahkan ia sendiri mengatakan berani berhadapan dengan Bung Karno
sebagai penemu Marhaenisme untuk menegaskan perbedaan dalam Marhaenisme dan
Marxisme.
Selang
waktu sebelum membaca buku ini, penulis memahami tentang Marhaenisme dan
Marxisme hanya bagian luar saja atau secara umum terutama tentang sejarah dan
pengertian Marhaenisme. Yaitu; Marhaenisme adalah marxisme yang disesuaikan
(dilaksanakan) dengan kondisi Indonesia. Artinya dengan memahami Marxisme maka
akan paham pula apa itu Marhaenisme (Dangkalnya pemikiran penulis).
Ada banyak hal menarik dari tulisan Sayuti
Melik yang menjabarkan kedua -isme
menurut pendapat pribadinya sehingga memperjelas pengertian dan kedudukan
keduanya. Untuk memahami perbedaannya dimulai dari dua partai terdahulu yaitu
Partai Indonesia (Partindo) dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Berdirinya
Partindo inilah membawa pergolakkan tersendiri dalam pengertian Marhaenisme
karena Partindo menyatakan bahwa asasnya adalah Marhaenisme yang lain daripada
Marhaenisme asas PNI. Seorang promotor Partindo Asmara Hadi menyatakan Partindo
adalah Marhaenisme Bung Karno, Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi
Indonesia sedangkan Marhaenisme-nya PNI bukan marhaenisme Bung Karno karena
menolak Marxisme. Bahkan di sebut dalam pertumbuhannya Marhaenisme PNI telah
kabur dan beralih menjadi liberal.
Pernyataan diatas ditepis oleh kalangan
PNI baik dalam konteks anggapan lain dari Marhaenisme-nya Bung Karno maupun
menolak Marxisme. Dari pengakuan tersebut Sayuti Melik merangkaikan, bahwa baik
PNI maupun Partindo keduanya menerima ajaran Marhaenisme Bung Karno, keduanya
menerima ajaran Marxisme. Bedanya, Partindo menyatakan Marhaenisme itu Marxisme
yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia, yang dari pernyataan ini sebagaimana
konsekuensinya bahwa tiap orang Partindo merasa bahwa dirinya seorang marxis,
sedang PNI tidak menyatakan begitu dan tidak merasa demikian.
Lalu
dimana letak perbedaannya?
Dalam
konferensi pers pada 6 Agustus 1958, Asmara Hadi menguraikan bahwa Partindo
hanya menerima Marxisme sebagai metode ilmiah dalam menganalisa keadaan
masyarakat, sedangkan pandangan hidup Marxisme tidak diterimanya. Itulah
mengapa dinamakan sebagai penyesuaian Marxisme dengan situasi Indonesia.
Ketua Umum PNI Suwirjo dalam penutupan
Konferensi Pendidikan atau Pengajaran Marhaenis seluruh Indonesia pada 25
Agustus 1958 menandaskan bahwa PNI pun menerima Marxisme sebagai metode ilmiah
untuk menganalisa keadaan masyarakat, tetapi tidak 100% dengan filsafatnya. Hal
inilah yang menyebabkan golongan PNI tidak menyatakan bahwa Marhaenisme itu
Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Duduk perkara dari keduanya terletak pada
perbedaan penerapan istilah dimana sama-sama menyatakan menggunakan Marxisme
sebagai metode ilmiah untuk menganalisa keadaan masyarakat. Sama-sama
memaklumatkan tidak menerima filsafat atau pandangan hidup Marxisme.
Lebih
tegasnya Partindo menilai jika
seseorang telah menerima Marxisme sebagai suatu metode ilmiah dalam menganalisa
keadaan masyarakat, maka orang itu dinamakan seorang Marxis, walaupun tidak
menerima filsafat Marxisme. Sedang PNI menilai meskipun seseorang sudah
menerima Marxisme sebagai suatu metode ilmiah dalam menganalisa keadaan masyarakat,
maka orang itu tidak bisa di predikat sebagai seorang Marxis jika sudah menolak
filsafat Marxisme-nya sendiri.
Jadi, hakikat perbedaan Partindo dan PNI
terletak pada pengertian Marxisme atau hanya dalam penggunaan istilah “Marxisme
yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia” tidak pada penafsiran Marhaenisme
sendiri.
Source: Melik, Sayuti. 2018. Antara Marhaenisme dan Marxisme. Temanggung: Kendi
Source: Melik, Sayuti. 2018. Antara Marhaenisme dan Marxisme. Temanggung: Kendi

Comments
Post a Comment
Silahkan kritik dan sarannya