![]() |
Source Image: https://id.pinterest.com/pin/823666219322752053/
|
Merdeka!
Jika sebelumnya di bagian #1 perbedaan
antara Partindo dan PNI adalah perbedaan Marxisme, pemahaman tentang sesuatu
yang dinamakan Marxis (penggunaan istilah), bukan tentang Marhaenisme sendiri.
Hal ini sudah terang penjelasannya dari Asmara Hadi (Partindo) dan Suwirjo
(PNI). (Antara Marhaenisme dan Marxisme #1)
Sebagai seseorang yang mempelajari
Marxisme dalam tenggang lama, baik dengan mendengarkan kursus-kursus yang
diberikan tokoh maupun bacaan buku-buku Marxisme. Bahkan mengamati bagaimana
perjuangan kaum Marxis. Hal itu dinilai tak perlu diragukan bagaimana pemahaman
nya dalam -isme ini. Pun dalam
Marhaenisme meski sangat awal ia mempelajarinya dengan membaca buku-buku dan
mendengarkan pidato-pidato Bung Karno juga mengamati perjuangannya pula, kendati
baru awal mempelajarinya dibandingkan dengan diskursus Marxisme tetapi tidak
membentuk pemahaman terhadap Marhaenisme kurang, kaku atau sangat sempit.
Lalu bagaimana pendapat Sayuti Melik tentang benarkah Marhaenisme itu sebagai
pelaksanaan dari ajaran Marxisme?
Sayuti Melik menyatakan bahwa
Marhaenisme bukan hanya sebagai pelaksanaan dari ajaran Marxisme di Indonesia.
Pada tahun 1952, PNI mengadakan rapat yang
didalamanya alm. Sidik Djojosukarto menginterpretasikan bahwa Marhaenisme memang Marxisme yang
dilaksanakan di Indonesia. Mengapa demikian? Karena tidak hanya di Indonesia.
Marxisme ditanam di Rusia melahirkan Bolsyewisme,
lalu Marxisme ditanam di Indonesia menciptakan Marhaenisme. Setelah rapat umum PNI diatas Sayuti Melik alm. Sidik
mengemukakan bahwa apa yang diucapkannya dalam rapat kurang tepat. Mengapa
demikian? Marhaenisme bukan hanya Marxisme yang dilaksanakan di Indonesia,
melainkan ada perbedaan. Marxisme yang dilaksanakan di Indonesia itu sudah ada
dan tidak melahirkan PNI, melainkan mencetuskan PKI, PSI, Partai Buruh, Acoma,
atau mungkin Partai Murba.
Sayuti Melik mengetahui bahwa afirmasi
alm. Sidik berasal dari pernyataan Bung Karno sendiri, Bapak Marhaenisme.
Terkadang Bung Karno menyatakan bahwa Marhaenisme itu Marxisme yang
dilaksanakan di Indonesia. Jadi, yakin benarlah pernyataan yang alm. Sidik
kemukakan.
Disinilah Sayuti Melik mengatakan bahwa
berani berhadapan dengan Bapak Marhaenisme untuk mempertegas bahwa Marhaenisme
bukan hanya merupakan pelaksanaan Marxisme di Indonesia saja, karena ia (baca:
Marhaenisme) mengetahui adanya perbedaan prinsipil antara Marhaenisme dengan
Marxisme. Meskipun ada banyak persamaan yang mungkin menimbulkan seakan-akan
Marhaenisme hanyalah Marxisme yang disesuaikan dengan masyarakat Indonesia.
Tetapi perlu diingat bahwa banyak pula perbedaannya.
Bagi sebagian orang yang tahu akan duduk
perkaranya sekiranya tahu bahwa pernyataan Marhaenisme adalah Marxisme yang
disesuaikan dengan Indonesia merupakan perbedaan penggunaan istilah (baca dalam tulisan: Antara Marhaenisme dan Marxisme #1), bukan perbedaan hakekat atau isi. Yang
mana pernyataan Bung Karno bisa menjadi penggugah bagi kalangan PNI untuk
menyelami Marxisme sedalam-dalamnya. Sebab untuk mengerti Marhaenisme yang
sungguh-sungguh perlu menelaah Marxisme yang sebenarnya pula.
Tetapi, khalayak ramai banyak dibuat
kebingungan dengan perkara tersebut. Orang lantas bertanya-tanya:
Apakah
benar Marhaenisme PNI itu berbeda dengan Marhaenisme Bung Karno yang lantas
membimbangkan kebenaran Marhaenisme PNI?
Pula
apakah benar Marhaenisme Bung Karno itu hanyalah Marxisme di Indonesia yang
lantas membimbangkan keabsahan dan kesahihan Marhaenisme Bung Karno sendiri
jika itu benar didapatkan dari masyarakat Indonesia?
Bung Karno kerap menyatakan bahwa
Pancasila dan Marhaenisme adalah asli Indonesia. Ditemukan dari penggaliannya
di bumi Indoensia, dari analisanya masyarakat Indonesia. Singkatnya,
Marhaenisme dan Pancasila itu sudah ada dalam kandungan Ibu Pertiwi Indonesia,
bukan di impor dari luar negeri yang intisari (Marhaenisme) adalah paham hidup gotong royong. Bung karno menerangkan
pada perumusan Pancasila sebagai filsafat negara pada 1 Juni 1945, dinyatakan
bahwa Pancasila jika diperas bisa ringkas menjadi Trisula, yakni: Sosio-Nasionalisme;
Sosio-Demokrasi; dan Ketuhanan.
Dan jika Trisula ini diperas lagi bisa diringkas menjadi Ekasila, yakni; Gotong
Royong.
Jika dikemukakan bahwa Marhaenisme Bung
Karno hanyalah pelaksanaan Marxisme di Indonesia, sedang Marxisme di ketemukan
di Eropa Barat pertengahan abad ke XIX, bagaimana
orang masih dapat mempercayai bahwa Marhaenisme itu asli Indonesia?
Perlu kita paham bahwa Marxisme adalah –isme yang tidak hanya digunakan sebagai
metode ilmiah untuk menganalisa keadaan atau perkembangan masyarakat melainkan
juga sebagai suatu filsafat. Tegasnya, Marxisme dicetuskan atas satu filsafat,
yaitu; filsafat Materialisme. Itulah mengapa banyak orang menampik, menolak,
menyanggah Marxisme atau Komunisme oleh karena filsafat Materialisme-nya. Oleh
karenanya memperkirakan bahwa Bung Karno seorang Komunis atau seorang Marxis,
yang menganut filsafat Materialisme. Padahal ia seorang Nasionalis revolusioner
yang tidak menganut filsafat -isme tersebut,
yang akibat dari pernyataan Bung Karno; Marhaenisme adalah pelaksanaan Marxisme
di Indonesia.
Kala orang banyak mengelak dan
membicarakan Marxisme dan Komunisme, lalu
bagaimana mereka sendiri para kaum Marxis?
Kaum Marxis menerangkan bahwa pelaksanaan
Marxisme di Indonesia bukanlah Marhaenisme, melainkan tetap Marxisme itu
sendiri. Partai yang berasaskan Marxisme bukanlah PNI atau Partindo melainkan
PKI, PSI dan ISDV.
Singkatnya, pernyataan Marhaenisme sebagai
pelaksanaan Marxisme di Indonesia malah banyak menimbulkan kekacauan dan
kesangsian daripada pencerahan pengertian Marhaenisme sendiri.
Source: Melik, Sayuti. 2018. Antara Marhaenisme dan
Marxisme. Temanggung: Kendi

Comments
Post a Comment
Silahkan kritik dan sarannya