Source Image: http://stephenkoppekin.net/blog/page/6/
Merdeka!
Apa Itu Marhaenisme?
Jelas, seperti yang telah diutarakan sebelumnya oleh Sayuti Melik bahwa untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara Marhaenisme dan Marxisme, orang harus benar-benar paham apa sejatinya Marhaenisme dan apa sejatinya Marxisme. Jika keduanya belum benar-benar dimengerti pastilah orang tidak dapat menampakkan persamaan dan perbedaannya. Mungkin orang hanya dapat mengatakan bahwa Marhaenisme itu sama dengan Marxisme atau hanya dapat menegaskan bahwa Marhaenisme itu berbeda dengan Marxisme.
Lalu, apa sebenarnya yang dinamakan Marhaenisme (Menurut Sayuti Melik)?
Sayuti Melik menandaskan bahwa jawaban dari pertanyaan diatas bisa banyak dan macam-macam. Tapi dapat dibagi menjadi 3 (tiga):
Jawaban menurut arti kata
Jawaban menurut pengertian
Jawaban menurut perbandingan dengan -isme yang lain
Jawaban menurut arti kata, dapat dituturkan:
Marhaenisme adalah -isme-nya kaum marhaen, -isme-nya kaum kromo, -isme-nya kaum rakyat jelata, -isme untuk memperbaiki nasib, -isme untuk memerangi kemiskinan, -isme untuk merebut kekuasaan, -isme untuk mengatur negara dan -isme untuk mewujudkan adil dan makmur.
Jawaban menurut pengertian, dapat dituturkan:
Marhaenisme adalah ilmu perjuangan sesuatu bangsa, pertama-tama sudah mencapai kemerdekaannya, dan selanjutnya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Jawaban menurut perbandingannya dengan -isme yang lain, dapat dituturkan:
Marhaenisme adalah satu macam sosialisme ilmiah yang hendak mewujudkan masyarakat sosialis (adil dan makmur) menurut keadaan masyarakatnya masing-masing dan berdasarkan kepribadian suatu bangsa.
Rangkaian istilah diatas tentu tidak cukup digunakan untuk menguraikan tentang Marhaenisme, perlu lebih banyak penjabaran dari jawaban pertama, kedua lebih-lebih jawaban ketiga. Sayuti Melik memberikan pembeberan mengenai jawaban kedua, yang mana elaborasi ini ia ambil dari pemaparan tertulis Bung Karno yang dimuat dalam koran “Sulindo” pada 4 Juli 1957, saat memperingati “30 tahun lahirnya Marhaenisme”
Isi dari penjelasan Bung Karno:
Marhaenisme bukannya ilmu untuk memperkaya diri sendiri, melainkan ilmu untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Marhaenisme adalah ilmu kemerdekaan sesuatu bangsa, pertama-tama untuk mencapai kemerdekaan bangsanya, dan selanjutnya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu, Marhaenisme bukan monopoli sesuatu golongan atau sesuatu partai. Marhaenisme hendaknya dimilliki oleh setiap orang yang gandrung akan kemerdekaan dan gandrung akan keadilan dan kemakmuran.
Marhaenisme pada mulanya hanyalah merupakan ilmu perjuangan bangsa Indonesia. Tetapi sekarang ini telah mempunyai sifat universil, ialah ajaran Marhaenisme untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur (masyarakat sosialis) menurut keadaan masyarakatnya masing-masing dan berdasarkan kepribadian bangsanya. Buktinya, beberapa negara diluar negeri yang hendak mewujudkan masyarakat sosialis didalam negerinya, sekarang ini banyak yang menempuh jalan seperti diajarkan oleh Marhaenisme tadi.
Kurang lebih demikianlah diantaranya isi penjelasan tertulis Bung Karno pada 4 Juli 1957.
Dari penjelasan diatas teranglah, bahwa untuk menjadi seorang Marhaenis tidak harus lebih dulu menjadi seorang Marxis, karena setiap orang gandrung akan kemerdekaan bangsa, gandrung akan keadilan dan kemakmuran, sangat bisa hendaknya menjadi seorang Marhaenis. Pun sebaliknya, kaum Marxis bisa memperlajari dan menjalankan ajaran-ajaran Marhaenisme dengan tidak perlu menyatakan dirinya sebagai seorang Marhaenis.
|
Comments
Post a Comment
Silahkan kritik dan sarannya