Tunggu Apalagi, Pak
Presiden!
#opinion
![]() |
| Source Image: pinterest.com |
Wabah
pandemi yang disematkan pada COVID-19 oleh WHO akibat potensi penyebarannya
yang luas masih terus berlanjut di berbagai dunia. China hingga hari ini bisa sedikit
menarik nafas setelah perjuangan untuk menetralisir sejumlah kasus pandemi rakyatnya mengalami penurunan. Namun, tidak sampai disana. Kini seluruh dunia diluar
China justru menjadi sasaran berikutnya, seperti Italia perhari ini menjadi
jumlah terbesar kedua 17.600 kasus, Iran 12.700 kasus, Korea Selatan 8.000
kasus dan negara lainnya termasuk Indonesia yang per hari ini ada 117 kasus.
Coretan
tak berfaedah ini bukan untuk membahas soal COVID-19 secara medis seperti
penanganan, pencegahan atau hal yang harus dan tidak dilakukan. Namun, yang
saya tekankan adalah persoalan “akibat” dari COVID-19 yang bergemuruh di seisi
tanah air setelah adanya kasus pertama hingga jumlah terupdate hari ini.
Pertama,
saya sedikit heran ketika kasus COVID-19 mulai muncul ke permukaan di
Indonesia, malah Gubernur Jakarta yang terlihat responsif menanggapi
kasus ini setelah beberapa warganya dinyatakan positif. Saya tidak update
daerah lain karena media Indonesia hanya menyiarkan kota-kota besar. Keheranan saya
bukan atas tindakan responsifnya, melainkan mengapa harus pemerintah daerah
yang pertama peduli ketika kasus ini muncul. Malah saya merasa bangga jika pemerintah daerah seperti DKI Jakarta begitu tanggap menghadang kasus pandemi ini walau tanpa ada instruksi dari pusat. Saya sebagai orang awam justru mempertanyakan keberadaan pemerintah pusat sebagai kedudukan tertinggi negeri ini begitu
senyap menghadapinya. Malah, sampai hari ini tidak ada pengumuman resmi bahwa pemerintah
pusat akan melakukan tindakan pencegahan. Saya takut daerah-daerah berjalan
sendiri tanpa adanya komando yang terintegrasi dari pusat.
Kedua,
jika pemerintah pusat melakukan upaya jalan underground dan sedang
melakukan analisa mendalam, setidaknya beritahukan langkah konkrit pemerintah
seperti pemeriksaan awal sebagai pencegahan pandemi ini tidak tersebar luas.
Informasi sangat penting dan paling dibutuhkan saat ini. Saya kurang yakin jika
menutup informasi jumlah penyebaran kasus di Indonesia disebut efektif sebagai dalih
agar tidak membuat panik masyarakat. Nyatanya, berita itu kian meronta
kemana-mana bercampuraduk dengan hoax. Singkatnya, menutupi informasi kasus
COVID-19 di zaman Whatsapp ini sama dengan bohong, justru masyarakat
semakin panik mempertanyakan tindakan pemerintah bahkan tidak sedikit menyebut
situasi ini dipolitisasi pemerintah.
Ketiga,
beberapa negara sudah jauh menutup akses WNA ke negaranya, WNA yang berada di
negaranya segera dipulangkan, tes segera dilakukan, jalur pariwisata ditutup,
penerbangan diberhentikan, tim medis disiagakan bahkan sampai melakukan lockdown.
Lalu di Indonesia, pemerintah malah asyik dengan diskon pesawat dan
pariwisata, serta menambah riuh dengan RUU Omnibus Law. Namun, ini jauh sebelum
pandemi ini masuk secara resmi ke Indonesia. Lihat setelah beberapa kasus
terjadi hari ini apakah ada langkah pasti? Tidak. Saya tidak paham analisa
mendalam apalagi yang pemerintah tunggu sedang warganya sedang sakarat, sedang
ketakutan, bahkan meninggal akibat pandemi ini.
Sedikit
dari yang disebutkan diatas, saya jadi mempertanyakan fungsi sebenarnya pemerintah
negara bagi rakyatnya dalam kondisi serba kejepit. Apakah ini persoalan stabilitas
ekonomi, ancaman bangsa lain, defisit keuangan negara? Bukan. Ini persoalan
melindungi hak hidup seseorang, ketakutan telah masuk ke tiap-tiap hati manusia.
Untuk
itu, pak Presiden. Tenangkanlah wargamu, berilah rasa aman dari ketakutan ini, semua
nyawa orang-orang yang telah dititipkan hanya bergantung pada tindakanmu. Bekerjasama,
transparansi dan bergerak untuk melawannya. Pandemi ini musuh semua bangsa,
kini giliran kita melawannya. Jadi, tunggu apalagi, Pak. Presiden.

Comments
Post a Comment
Silahkan kritik dan sarannya